Kementan: Impor Bawang Tak Bisa Dihindari

10 tahun yang lalu
Bagikan:
Kementan: Impor Bawang Tak Bisa Dihindari

Kegiatan impor produk hortikultura termasuk bawang merah tak bisa dihindari. Alasan keberlangsungan pasokan di dalam negeri yang tak kontinyu menjadi penyebab impor komoditas pangan ini masih terjadi. Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Hasanuddin Ibrahim mengakui Indonesia kerap mengimpor bawang merah dari negara-negara di utara khatulistiwa seperti Vietnam, India dan Thailand.

Periode musim hujan antara Indonesia dan negara-negara tadi berlawanan. Sehingga berdampak pada perbedaan musim panen bawang merah di kedua wilayah. Saat Indonesia kekurangan bawang merah, di negara-negara tersebut justru sedang berlimpah. Saat kita di selatan khatulistiwa (Pulau Jawa) hujan maka negara-negara di Utara kering, dan sebaliknya, katanya, di Jakarta, Selasa (6/5).

Menurutnya, impor bawang merupakan simbiosis mutualisme saling membantu antara Indonesia di sekitar khatulistiwa dengan negara-negara tetangga terutama Vietnam yang di Utara khatulistiwa. Saat ini dari total kebutuhan bawang merah, sebanyak 20% harus diimpor dari Vietnam, Thailand dan lainnya. Untuk bawang merah kita impor 20% dan ekspor juga hampir sebesar itu, katanya.

Bawang merah salah satu komoditas pangan yang mengalami lonjakan impor pada Maret 2014. Tercatat kenaikan hampir mencapai dua kali lipat untuk kedua jenis bawang ini dibandingkan bulan sebelumnya.

Berdasarkan data BPS, impor bawang merah dilaporkan volume impornya mencapai 22.908 ton atau senilai US$ 9,8 juta. Pada Februari, impor bawang merah adalah 14.315 ton atau US$ 6,5 juta. Selama 3 bulan 2014, impor bawang merah adalah 43.470 ton atau US$ 19,4 juta. Impor bawang merah berasal dari beberapa negara. Terbesar adalah Thailand dengan volume 9.468 ton atau US$ 4,5 juta. Kemudian Vietnam 7.566 ton atau US$ 3,5 juta dan India dengan 5.873 atau US$ 1,8 juta.

Masih Impor Ubi
Sementara itu, Ketua Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) Marwah Daud menjelaskan Indonesia merupakan produsen ketiga di dunia produk ubi-ubian, khususnya singkong. Sayangnya impor harus tetap dilakukan untuk mengisi kekosongan pasokan di bulan-bulan tertentu. Tanaman ubi ini bersifat temporal. Pada saat panen raya, produksinya cukup tinggi tetapi setelah panen dan musim tanam pasokan tidak ada sama sekali. Ini yang menyulitkan industri pengolahan mendapatkan bahan baku sehingga harus impor, kata Marwah.

Ia mencontohkan pada 2013, produksi singkong mencapai 22 juta ton atau meningkat dari tahun 2012 lalu yang hanya 20 juta ton. Dengan produksi yang cukup besar ini, Indonesia menempati posisi ketiga produsen singkong terbesar setelah Nigeria dan Thailand. Tidak hanya itu, data MSI menunjukkan, ekspor singkong Indonesia tahun lalu mencapai 600.000 ton. Sementara tahun ini, ekspor singkong diperkirakan meningkat dua kali lipat menjadi 1,2 juta ton. Singkong diekspor ke berbagai negara produsen bioetanol seperti di China, Jepang, dan Korea. Untuk pasar Tiongkok, singkong harus diolah menjadi gaplek, sedangkan Jepang, singkong harus diolah menjadi pelet atau chip. Kalau kita impor produk ubi dari Tiongkok, justru kita juga ekspor produk serupa ke sana. Singkong yang diekspor dalam bentuk olahan kering (gaplek), imbuhnya.

MSI menghitung tahun ini diperkirakan akan ada penambahan luas perkebunan singkong menjadi 1,25 juta hektar, naik 4,1% dibanding tahun lalu yang hanya 1,2 juta hektar. Perluasan lahan diharapkan mampu mengembalikan produksi yang sempat merosot tahun 2012 lalu yaitu 4,7%. Beberapa sentra produksi singkong antara lain Lampung, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten. Lampung masih menjadi produsen singkong terbesar Indonesia hingga 20% total produksi nasional. Kini singkong juga banyak dikembangkan di wilayah timur Indonesia seperti di Sulawesi.
Menurutnya Kementerian Pertanian dan Kementerian Perindustrian harus memberikan perhatian khusus dan membuat sebuah roadmap penanaman singkong berkelanjutan.

Caranya cukup mudah yaitu dengan membuat kluster-kluster penanaman singkong yang tersebar di seluruh Indonesia. Sehingga ketergantungan impor bisa ditekan. Produk ubi ini cocok dengan lahan kita, tinggal pemerintahnya saja yang membuat pogram komprehensif jika mau menekan impor. Caranya ini yang sudah dilakukan Thailand dan Tiongkok untuk meningkatkan produksi ubi mereka, jelasnya. (dtf )

Sumber : http://medanbisnisdaily.com