Produksi Bawang Merah Sumut Meningkat

9 tahun yang lalu
Bagikan:
Produksi Bawang Merah Sumut Meningkat

   Produksi bawang merah Sumatera Utara (Sumut) tahun 2015 mengalami peningkatan. Begitupun, produksi yang ada belum mampu menutupi tingkat kebutuhan konsumsi bawang merah di masyarakat. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pertanian Sumut periode Januari hingga April 2015, dibandingkan dengan produksi tahun 2014, produksi bawang merah tahun ini meningkat sebanyak 1.626 ton. Pada tahun 2014, produksi bawang merah di Sumut hanya 1.548 ton, tetapi ditahun 2015 naik menjadi 3.174 ton.

  Sekretaris Dinas Pertanian Sumut, Ichroni Hasibuan mengatakan, peningkatan produksi yang terjadi itu tak terlepas dari keseriusan pemerintah Sumut dalam mendorong peningkatan produksi bawang merah. Sebab, bawang merah adalah salah satu komoditas yang diprioritaskan pemerintah untuk dilakukan pengembangan.

  Dukungan pemerintah terhadap bawang merah memang ada, termasuk pengembangan luas tanam, ungkapnya kepada MedanBisnis, Rabu (27/5) di Medan.

   Ichroni menjelaskan, sebagai komoditas penyebab inflasi selain cabai merah, menjadi alasan pemerintah untuk serius mendorong peningkatan produksi bagi bawang merah. Apalagi, pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian (Kementan) juga getol untuk menggenjot produksinya.

  Di Sumut sendiri, kata dia, luas tanam bawang merah tahun ini mengalami peningkatan. Dari hanya 403 hektare di tahun lalu, hingga April kemarin menjadi 431 hektare.

  Untuk luas panen juga naik, dari 199 hektare di tahun lalu menjadi 384 hektare. Begitupun, dengan produktivitasnya naik dari 77,78 persen menjadi 82,64 persen, jelasnya.

  Sedangkan untuk sentra produksi bawang merah sendiri, sambung Ichroni terbanyak dihasilkan dari 5 kabupaten, yakni Kabupaten Dairi sebanyak 779 ton, Simalungun 667 ton, Tobasa 476 ton, Humbang Hasundutan 349 ton, serta Samosir sebanyak 313 ton.

  Sementara, Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Sumut, Yulizar sebelumnya mengatakan, di Sumut sendiri, produksi bawang merah memang belum dapat untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga Sumut. Sehingga, Sumut sangat berharap banyak dari pasokan bawang merah asal Jawa serta Bangkok.

  Hal itu, kata Yulizar dikarenakan dalam memproduksi bawang merah terkendala pada persoalan perbenihan. Benih umbi untuk produksi bawang merah harus didatangkan dari Jawa, yang menyebabkan cost produksinya tinggi, sementara untuk penggunaan biji bawang merah, petani kurang menyukainya. Untuk konsumsi saja kurang, apalagi benihnya juga masih kurang, imbuhnya.

  Untuk itu, sebutnya, sudah sepatutnya Sumut memiliki penangkaran sendiri untuk komoditas bawang merah. Supaya, kebutuhan benih petani pada bawang merah dapat tersedia. Kita nggak punya penangkaran bawang merah. Kita sudah mengusulkan ke daerah agar dapat dibangun, tetapi memang daerah tidak serius, pungkasnya.

Sumber : www.medanbisnisdaily.com