Sibolga Mengalami Deflasi Tinggi

10 tahun yang lalu
Bagikan:
Sibolga Mengalami Deflasi Tinggi

Meskipun bahan makanan bergejolak secara relatif, Kota Sibolga mencatatkan deflasi (penurunan harga secara umum) tertinggi di Sumut pada bulan Februari 2015. Karena, secara bulanan seluruh Kota di Sumut mengalami deflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Kota Sibolga sebesar -2,04% (mtm). Secara tahun kalender, Kota Sibolga juga mencatat deflasi sebesar -1,44% (ytd) di atas deflasi Nasional -0,61% (ytd), ungkap Kepala Perwakilan BI Sibolga, M Junaifin di acara, Perkembangan Terkini, Tantangan, dan Prospek Perekonomian Indonesia, Rabu (4/2) di Graha Aulia KBI Sibolga.

Tetapi, secara tahunan, Kota Sibolga mengalami inflasi (kenaikan harga secara umum) tertinggi kedua setelah nasional. Kota Sibolga mencatatkan inflasi sebesar 6,02% (yoy), Pematangsiantar 5,43% (yoy), Medan 5,98% (yoy), Padangsidimpuan 5,20% (yoy), Sumut 5,89% (yoy) dan Nasional 6,96% (yoy).

Bila dilihat dari perkembangan harga komoditas utama daerah, berdasarkan rilis SPH terkini pada minggu ketiga Februari 2015, mengindikasikan peningkatan tekanan inflasi pada komoditas pangan strategis yaitu beras dan daging sapi.

Peningkatan harga beras pada minggu ketiga tersebut disebabkan perayaan Imlek. Sementara, peningkatan harga pada daging sapi diperkirakan disebabkan oleh meningkatnya permintaan di tengah berkurangnya pasokan, ujar Junaifin.

Untuk pasokan perikanan, kebijakan pelarangan penggunaan alat penangkapan ikan pukat hela dan pukat tarik tidak terlalu berdampak pada nelayan Sumatera Utara. Hal ini sebagaimana penjelasan dinas terkait pada rapat TPID.

M Junaifin membeberkan, inflasi pada kelompok inti relatif sama dibandingkan bulan Januari 2015. Faktor yang memengaruhi inflasi inti adalah cenderung menurunnya tingkat permintaan sejalan dengan akselerasi pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Sementara pada kelompok voltile food, penurunan harga bumbu-bumbuan menjadi pemicu terjadinya deflasi di bulan Februari 2015. Deflasi bersumber dari komoditas cabai rawit, cabai merah, bumbu masak jadi dan bawang merah dengan nilai masing masing sebesar 46,36%, 24,47%, 13,34% dan 14,99% (mtm).

Sedangkan inflasi pada kelompok administered prices di Kota Sibolga dan Padangsidimpuan menunjukkan perkembangan yang masih terkendali. Tekanan inflasi administered prices terpantau berkurang, sejalan dengan penurunan harga bensin sebesar 15,34%.

Pada kesempatan itu, M Junaifin mengungkapkan, risiko inflasi triwulan I 2015, perlu diwaspadai, pada kelompok volatile food, di antaranya, risiko kenaikan komoditas perikanan seiring dengan faktor cuaca dan Permen KP Nomor 57 Tahun 2014.

Gangguan cuaca akan menyebabkan kelangkaan pasokan ikan segar, kemudian erupsi Gunung Sinabung, mengingat Kabupaten Karo merupakan kabupaten sentra produksi beberapa komoditas pangan, jelasnya.

Dampak Permen KP Nomor 57 Tahun 2014 adalah meningkatnya biaya produksi khususnya kebutuhan energi yang lebih besar untuk pendingin ikan. Sementara itu, dari Permen Kelautan Nomor 2/PERMEN-KP/2015 tidak berpengaruh terhadap produksi perikanan malah justru diperkirakan berhasil menjaga ketersediaan beberapa komoditas ikan laut seperti cumi, bebernya.

Terhambatnya penyaluran raskin tahun 2015 (terkendala administrasi) masih terjadi di Sumut. Kondisi cuaca cukup normal dan mengarah ke fase kemarau hingga bulan Juni, sehingga aktivitas panen tidak akan terganggu.

Sedangkan pada kelompok administered prices, secara nominal, harga minyak dunia lebih tinggi dibandingkan dengan bulan Januari 2015, sehingga terdapat potensi penyesuaian kembali harga BBM. Kemudian, dampak penyesuaian tarif listrik untuk 10 golongan pelanggan di bulan Januari yang akan dibayarkan pada Februari 2015 serta kemungkinan kenaikan TTL golongan rumah tangga.

Sumber : http://www.medanbisnisdaily.com